A Four Years Review of My Riding Gear – KYT RC-Seven

courtesy of Reyhan Firdaus & Derry Pratama
courtesy of Reyhan Firdaus & Derry Pratama (2013) firstly published at Shootupnride.com

 

Riding gear….. dua kata inilah yang seringkali disebut-sebut oleh para rider Indonesia. Riding gear bisa bermacam-macam jenisnya, tergantung bagaimana peruntukkannya. Entah untuk kepala, tangan, kaki, ataupun bagian tubuh lain. Tugasnya? Terutama sebagai perlindungan apabila kita mengalami hal yang tidak diinginkan saat mengendarai motor. Saya yakin bila ditanya soal riding gear, sebagian besar orang Indonesia akan menyebut helm sebagai perlindungan paling utama.

Tentu, di Indonesia fungsi utamanya adalah perlindungan dari tilang polisi…….just kidding btw

Bagaimanapun, setelah saya sedikit belajar mengenai neurosains di bangku kuliah (mata kuliah yang tidak saya anggap serius), saya paham bahwa otak merupakan bagian tubuh yang sangat penting. Sistem saraf pusat ini mengatur seluruh kinerja tubuh kita. Apa yang terjadi bila organ ini terganggu?

IMG_8715 copy
courtesy of Reyhan Firdaus (2012)

Cacat mental, lumpuh, atau yang paling buruk, mati mengenaskan. Sayangnya, entah kurang pintar atau tidak peduli, masih banyak orang Indonesia yang memakai helm hanya sebagai prasyarat. Perilaku ini antara lain mewujud pada penggunaan helm tanpa mengaitkan tali helm dengan baik, akibatnya tentu, saat terjadi kecelakaan, si helm terbang entah kemana, meninggalkan kepala si tuan tanpa perlindungan sedikit pun. Sama saja dengan tidak memakai helm.

yellowish attempt-3
courtesy of Reyhan Firdaus & Derry Pratama (2013) fisrstly published at Shootupnride.com

Saya sendiri, belajar sedari awal bahwa perlindungan yang paling utama ini tidak boleh ditinggalkan. Sebagai seorang anak SMA kelas tiga pengendara motor bebek, tahun 2011 lalu, helm pilihan saya adalah sebuah fullface helmet. Yup, sebagai helm pertama, saya memilih sebuah KYT RC Seven Solid Black. A budget class, entry level fullface helmet. Faktor pertama yang saya lihat saat membeli helm ini adalah, harganya. Waktu itu masih cukup murah, sekitar 200ribuan rupiah. Faktor kedua adalah, tentu saja karena ini fullface helmet. Saya berusaha supaya wajah tampan saya ini tidak ternoda aspal jalanan (kalau masih kuat, boleh membaca lebih lanjut, hehehe).

Picture 137
first time unboxing the helmet (2011)

 

Pandangan pertama, helm ini punya bentuk yang cukup keren dijamannya, quite a looker. Tampangnya melebihi harga, dengan kualitas cat yang tergolong cukupan (dan bakal lebih keren seandainya decal “RC SEVEN” engga dipajang gede gede di samping, plis).

bersama milik sepupu saya, KYT V2R, yang kelasnya lebih 'tinggi' pun tetap keliatan gaya
bersama milik sepupu saya, KYT V2R, yang kelasnya lebih ‘tinggi’ pun tetap keliatan gaya

 

21022013440
ini dia….decalnya gede amad…….

Materialnya juga terkesan cukup kokoh, dengan padding empuk yang lembut dan seluruhnya bisa dibuka serta dicuci. Untuk visor kebetulan dari beli dibekali yang bening, dan memang bening, untungnya engga ada distorsi sehingga engga bikin pusing. Visor ini gampang dilepas juga, dengan engsel yang cukup tahan lama (tentu, setelah empat tahun buka-tutup dengan kasar, gigi-gigi si engsel mulai rompal).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Rasanya? PAS. Helm ukuran L ini memeluk kepala saya dengan cukup baik, walau saya yakin bakal lebih enak lagi kalo dulu saya beli ukuran M. Untuk bobot, kisaran rata-rata fullface pada umumnya, 1500an gram. Pertama kali pakai tentu pegel, tapi kalo udah biasa engga ada masalah. Malah pas pake helm open face berasa terlalu enteng. Si ArSi ini cukup kedap suara juga, walau di kecepatan 70 kpj keatas, mulai timbul suara bising, tapi engga berlebihan. Satu temen saya pernah bilang bahwa RC Seven-nya demen bersiul siul di kecepatan segitu, untung di ArSi saya tidak terjadi

 

Soal sirkulasi udara, harga helm ini rupanya tidak bohong. Dan ini umum terjadi pada helm fullface entry level (saya engga bisa protes, nginget dengan uang yang sama saya cuma bisa dapet Pinlock antikabut helm, dan saya bisa dapet helm utuh dengan RC7 ini) .

useless exhaust
aksesoris saja nampaknya, prepare more budget to get the most of fullface experience
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
ventilasi atas ini lebih untuk ‘hiasan’

 

Ventilasi yang saya rasakan efeknya hanya vent depan, yang berhadapan langsung dengan wajah. Vent lainnya yang terletak di bagian atas, juga exhaust atawa lubang pembuangan udara di belakang….frankly speaking….adalah hiasan (karena engga lucu ngeliat fullface polos seperti helm gratisan ATPM ternama di Indo, the you-know-who is it). Tentunya macet macetan siang bolong di Kota Bandung yang sudah panas ini, adalah sauna gratisan. Setiap lepas helm, rambut basah adalah mutlak.

vent depan-outer damper opened
satu-satunya vent yang berfungsi, LOL

Saat hujan, sebetulnya performa helm ini tidak buruk buruk amat. Kabut jarang muncul karena sirkulasi depan cukup efektif. Air hujan juga engga menembus waktu visor ditutup. Downsidenya cuma visor yang bias kemana mana kalo udah malam dan hujan (kayaknya ini masalah yang umum terjadi pada helm harga segini dan umur segini). Kalo udah begini, saya lebih milih buka visor dan basah-basahan. Daripada kering dan hangat tapi nabrak?

visor yang mulai bias

Untuk kelengkapan lain, seperti yang saya bahas di awal tulisan, tali helm. Untuk urusan tali helm, RC Seven masih konservatif dengan quick release buckle, seperti yang dipakai helm open face-nya KYT. Pas masang praktis, giliran urusan adjust-mengadjust yang ribet. kudu melonggarkan gesper si tali dulu, lalu setel, kalo udah pake lagi, kalo belum pas ulangi lagi langkah diatas. Terus aja begitu sampai bosen. Beda sama helm yang udah pake microlock buckle, pasang sekaligus setel, walau tentu lebih praktis daripada double d-ring buckle (yang pasti lebih aman). Khusus untuk tali helm ini, saya merasa posisinya agak kurang nyaman buat leher. Terbiasa sih tapi tetap engga sreg.

quick release buckle, dengan padding dalam yang cukup nyaman
quick release buckle, dengan padding dalam yang cukup nyaman

Mengenai kondisi helm ini setelah empat tahun berdinas, gambaran umumnya : cat mulai kusam akibat ditimpa sinar matahari dan hujan, vent atas retak karena jatuh, karet lis bawah juga mulai lepas, padding bagian leher pecah-pecah, visor tentu baret-baret dan itu mengganggu setengah mati, terutama pas riding malam. Kerusakan paling akhir adalah engsel vent depan yang jebol karena engga sengaja saya teken terlalu keras (sepertinya memang udah mulai ringkih, dan saya akali dengan doubletape, it works :P).

vent yang retak
vent yang retak
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
padding yang pecah pecah
sering dikeluhkan pengguna RC7, list karet yang perekatnya kurang kuat

 

Apakah akan diperbaiki / diganti bagian-bagian yang rusak itu? Rasanya sih tidak, apalagi helm ini sudah mendekati masa purnabakti. Secara umum, sebaiknya helm diganti di umur 4-5 tahun, karena kondisi inner lining helm yang berupa styrofoam akan mengalami perubahan struktur karena suhu luar maupun suhu kepala, juga karena terkena minyak di kepala kita. Saya sendiri sudah membeli satu helm pengganti ArSi ini, tunggu saja reviewnya nanti:mrgreen:

Kesimpulannya adalah : RC Seven yang masih dijual sampai sekarang (dengan harga yang sudah jauh naik) adalah helm yang tergolong cukupan. Money worth spend, sudah dites pabrik berdasarkan standar DOT pula. Jangan terlalu berharap akan aksesori trendi seperti double visor, double d-ring buckle, atau visor yang sudah pinlock ready. Target helm ini adalah pemula, dan kebutuhan pemula cukup terakomodasi. Helm nyaman, aman, murah, persyaratan minimum, sesuai dengan kelasnya.

IMG_8739 copy
helm ‘pemula’ (courtesy of Reyhan Firdaus)

8 pemikiran pada “A Four Years Review of My Riding Gear – KYT RC-Seven

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s