Yamaha RD350LC-The True Race Replica

Yap….kembali lagi saya mengulas motor-motor lawas nan jadul yang jadi idola di masanya. Namun, berbeda dari yang biasanya, saya sekarang mengulas motor Yamaha. Yaitu Yamaha RD350LC.

Kenapa sih saya tiba-tiba bisa membahas motor Yamaha? sebetulnya sih karena request dari seorang teman baik saya yang juga seorang blogger, hehehe. Dan saya pikir RD350 cukup layak juga untuk diangkat sebagai bahasan artikel

Nah, sekarang kita lihat figur spesifikasinya :

Mesin : 2 tak, pendingin air, 2 silinder segaris, 347 cc

Karburator : 2x 26mm Mikuni slide

Bore x stroke : 64 х 54 mm

Tenaga maksimum : 47 hp @8500 rpm (RD350LC1) 53 hp @8500 rpm (RD350LC2) 

Torsi maksimum : 3.8 kg-m @ 8000 rpm

Rem : Depan cakram ganda dengan kaliper piston tunggal, belakang teromol (pada LC2, rem belakang cakram tunggal dengan kaliper piston tunggal)

Kecepatan puncak : 114 mpj (RD350LC1)

Standing quarter mile : 13.8 detik  /  97.2 mpj (RD350LC1)

RD350LC adalah sebuah motor yang dikeluarkan untuk meneruskan kiprah Yamaha RD350.

RD350-Sang predesesor

RD350 yang merupakan pendahulu RD350LC, diluncurkan pada tahun 1973, yang dibekali mesin konvensional pendingin udara, namun dengan konfigurasi mesin yang serupa dengan versi LC, yakni silinder ganda dengan bore x stroke yang juga persis sama. Tipe kedua motor ini adalah overbore. Tenaga maksimum yang diperoleh oleh RD350 ini adalah 35 hp@7500 rpm. Termasuk yang tercepat di kelasnya kala itu

RD350LC1 diluncurkan pertama kali pada tahun 1980, dibekali mesin berpendingin cairan . Tenaga sebesar 47 hp diperoleh dari berbagai perubahan yang dilakukan Yamaha terhadap Yamaha RD350, antara lain membenahi porting exhaust serta mengubah sistem pendingin menjadi pendingin air. Hasilnya dapat dilihat, kecepatan puncak diklaim mencapai 114 mpj, dan bisa menempuh jarak seperempat mil hanya dengan 13,8 detik, dan mencapai kecepatan 97,2 mpj.

Berikut adalah hasil test ride yang dilakukan sebuah majalah pada tahun 1980 terhadap RD350LC1

“You would expect race-bike finickiness from such a motor, and that’s just what you get. Below 6000 rpm, the engine isn’t strong enough to pull the wings off of a fruit fly. It tells you of its unhappiness by shaking fitfully in its rubber mounts. A flaw in part-throttle carburetion (it is too rich according to factory spokesmen) makes it all but impossible to accelerate in sixth gear at less than 6000 rpm.” 

Karakteristik mesin RD350LC1 adalah di putaran menengah-atas (sesuai dengan konfigurasi bore x strokenya). RD350LC1 dikatakan memiliki tarikan bawah yang kurang kuat. selain itu juga, campuran bensin dikatakan terlalu kaya, sehingga turut menambah kurang kuatnya tarikan bawah. Selain itu, vibrasi di tarikan bawah juga menjadi poin minus yang dimiliki RD350LC1.

“You’re paid back for this discomfort, though, once the tach needle crosses the 6000-rpm border and the motor begins to accelerate. It finally uncorks at 7500 rpm as port timing, exhaust tuning and carburetion suddenly come together, and the bike leaps forward with a terrific rush.”

Namun demikian, setelah melewati angka 6000 rpm, RD350LC1 akan berakselerasi dengan kuat, dan pada angka 7500 rpm, timing dari port serta exhaust dan karburasi bersinergi secara sempurna, dan melesatkan RD350LC1. Tentunya peranan konfigurasi overbore juga cukup besar di sini.

RD350LC2

Pada tahun 1983, Yamaha meluncurkan RD350LC2, yang memakai mesin yang benar-benar baru, dan dilengkapi YPVS (Yamaha Power Valve System). Konstruksi rangka juga berubah.

Panel Instrumen RD350LC2, nice eh?

Deskripsi mengenai YPVS mungkin dapat tergambar oleh kutipan dari Visordown.com ini :

“The YPVS consisted of a microprocessor-controlled servomotor, which in turn controlled a spool-shaped exhaust port valve that allowed continual variable port timing. But if that all sounds too technical it simply means this – Yamaha had found a way of extracting more power from the engine at peak revs without losing any low down grunt.”

Hasil dari penerapan mesin baru yang dilengkapi YPVS adalah, RD350LC2 mampu menyemburkan tenaga sebesar 53hp @8,500rpm.

RD350LC (both models), sejatinya adalah sebuah race replica, sebuah motor street legal yang dirancang dengan spesifikasi mendekati motor pacuan sebenarnya. Termasuk berbagai ketidakefisienan dalam penggunaan harian (dengan kata lain, kurang manusiawi :mrgreen:).  Tersirat dari testimoni yang ditulis oleh seorang yang telah melakukan test ride terhadap RD350LC

“A world without water-cooled RDs would be noticeably duller, a few steps closer to living in shades of tan and gray. No other motorcycle allows you to so nearly reproduce the sensations of a full-on road-racer while still dangling the carrot of street legality—at least in some more-civilized countries. I’m fascinated with the RD’s roadracy kinesthetics, but that doesn’t mean that I’d want it on the street. Racers belong on the racetrack, even thinly disguised racers like the RD. Coaxing one through slow-moving traffic would be hell. The powerband is thinner than a bureaucrat’s promise; fall off the 7000-rpm ledge and you need serious gearbox rowing to keep moving. It’s just too much effort to be fun. So give me an LC, Yamaha, but let me keep it at the track.” —Larry Works

Well….mungkin tulisan saya sama sekali tidak bisa menggambarkan RD350LC1 dan RD350LC2 secara sempurna, namun demikian, motor–yang kata seorang teman adalah RX-King versi besar–ini merupakan satu legenda jalanan 2 tak yang mungkin tidak akan tertandingi karismanya, bahkan oleh sportbike terbaru Yamaha seperti Yamaha R6.

“You aren’t fast, unless your mixin gas.”–TurnerR from thumpertalk.com

Sumber tulisan dan gambar

http://en.wikipedia.org
http://ja.wikipedia.org
http://www.motorcyclespecs.co.za
classic-motorbikes.net
http://www.thumpertalk.com
http://www.visordown.com
http://www.rd350lc.net
http://www.driftireland.com
http://www.sportbikerider.us


28 pemikiran pada “Yamaha RD350LC-The True Race Replica

  1. wow.. makasih banget udah diputerin rikwesnya brah..😀
    *brasa radio..:mrgreen:

    aku tau soal RD dari temen-temen yang suka ngobrolin motor, dan sering tercetus kata-kata “rx king badag”. since both of them sama-sama bukan tipe motor yang user-friendly. Dan juga bahas mitos diluar yang bilang bahwa RD kepanjangannya adalah “Racing/Road/Rapid Death”, walau yang logis itu mungkin “Race Derived”.

    However, sebuah nickname ngga datang begitu aja, pasti ada alasan-alasan tertentu dibalik itu. Dan setelah baca tulisan diatas, rasanya ngga heran..😀

    1. Sip Dhey, seneng juga karena bisa dapet inspirasi (inspirasi aku jujur aja lagi kering akhir2 ini:mrgreen: )

      yap…aku ngerti kenapa bisa dinamakan gtu:mrgreen:

      iklannya…..mengingatkan aku ke…..Honda CB750😆

  2. This is one of the most influential Yamaha of bike history.

    Mungkin RD350, TDR250 & 1st gen / 1998 R1 adalah Yamaha yang WAJIB ditunggangi bikers manapun.

    Liar, kejam, binal, fuck-your-skill-attitude / For nekaters only…Re-defining “Brutal” term! Shit, motor yang membuka horizon baru lah intinya.

    RX-King versi besar? More like smaller YZR500!

    Oh, coba ulas soal Stan Stephens, Ken, Nih bener-bener maestro-nya maestro 2-tak, terutama RD. Mungkin tuner paling dihormati di 2-tak mungkin….

    1. intinya adalah…..tidak manusiawi…..keterlaluan…..real brutal race replica……
      benar2 pembaharu layaknya GS1000………….

      yeah, since they’re both are a racing breed (RD350LC is a “so called” race replica, but it was just a racing bike which added lamp and sign lamp)…….insane👿

      ulas selain motor? boleh juga nih…ntar dicoba aah:mrgreen:

  3. yang suzuki udah,kawasaki udah,yamaha udah, yang hondanya ?😀

    btw,ulas yamaha R1Z dong,motor 2 tak teralisnya yamaha(walau gak teralis2 amat sih :D)

  4. Team CCP Maju Lancar jogja sepertinya punya tapi yg 125cc. Bahkan beritanya dulu bosnya sampe tega “membunuh” sebuah rx-z demi menghidupkan rd (sudah lama banget, agak lupa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s