Honda 70-Pewarna Kehidupan Keluarga Saya

dua bekjul milik keluargaku

Honda 70 memang salah satu motor vintage yang paling banyak beredar di Indonesia. Oleh karena merakyat pula, maka mesin C70  motor ini dijadikan basis motor-motor cub Honda berikutnya. Mulai Astrea 700, Astrea 800, Astrea Prima, Astrea Star, Astrea Grand, Astrea Supra X 100, sampai generasi terakhir c-series, yaitu Honda Revo 100.

Honda ini:

Bertipe enjin overbore (47.0 x 41.4), 72 cc OHC

Memiliki daya maksimal 5 dk

Kapasitas tangki bensin 4 liter

(sumber: http://cmhc70.blogspot.com/2009/08/specifications-honda-c70-cubpassport.html )

Nah, tipe Honda ini juga menjadi salah satu pewarna dalam kehidupan keluarga saya di masa lalu. Ibu saya memiliki sebuah Honda 70 tahun 1979 (kalau tak salah), namun biasanya malah dipakai adiknya (ibu saya gak bisa ngendarai motor:mrgreen: , tapi kakek saya main ngebeliin aja sih  :lol:  ) motor ini kemudian dipakai adik ibu saya sampai awal-awal bekerja sampai diberi sebuah mobil dinas Carry (klo gak salah ya), sesudah itu paman saya yang satu ini tak pernah naik motor lagi. Akhirnya Honda 70 itu lebih banyak dipakai para sopir. Sopir keluarga saya waktu itu ada 2, satu orang Majalengka, satu lagi saya lupa. Nah, mang sopir yang saya lupa dari mana asalnya ini memang rada nakal. Honda 70 itu dibongkar-bongkar. Terus juga minta uang dari keluarga saya untuk membiayai “perbaikan” Honda 70 yang katanya ada masalah, tapi gara-gara itu malah jadi banyak masalah, entah apa yang diganti-ganti. Biasa, korup-korup dikit. Akhirnya sih, berhenti juga tahun 90an. Sekarang tinggal sopir saya yang dari Majalengka, dan memang telah bekerja lebih dulu di keluarga saya, kira-kira 26 tahun mungkin ada.

Kemudian, dalam keadaan parah, awal 2000an, dibawalah Honda 70 milik ibu saya ke bengkel untuk diperbaiki. Kayaknya sih karena ayah saya puyeng soal borosnya mobilnya (Kijang tipe 7K-C, udah tau kan borosnya:mrgreen: ), Jadilah saya diantar ke sekolah memakai Honda ini. Banyak sekali ceritanya. Mulai pengalaman mogok, padahal bensin terisi penuh. Atau juga pengalaman mogok karena abis bensin:mrgreen: Sampai akhirnya FD110 datang ke keluarga saya, dan bergantilah Honda70 itu ke tangan pegawai untuk angkut-angkut barang. Waktu terus berjalan dan akhirnya si Seventy balik ke rumah karena FD110 berganti dipakai pegawai (awal kehancuran si FD110😡  ) Performanya sih yah, cukup lumayan. Testimoni supir saya yg asal Majalengka, pas masih cukup muda usia, si Seventy ini enteng diajak lari sampai 70 kpj (kata si spido Nippon Seiki sebelum jebol:mrgreen: ).  Sekarang si Seventy teronggok di halaman depan rumah karena memang ada kerusakan internal dan belum ada niat untuk menghidupkan lagi (terakhir dipakai berbulan-bulan yang lalu, mungkin sudah setahun lewat)

Nah, Honda ini juga adalah juga motor pertama yang saya pakai belajar. Karena memang si FD ada di tempat usaha ayah saya, dan gak da motor lain. Makanya, kenangan saya dengan si seventy memang banyak. Sebelum belajar pakai C100 alias Astrea Grand sodara, FitX, HSX 125 temen, bahkan sempet ngejajal FL125 tipe R milik temen kakak spupu (dan langsung kaget dengan tarikan si FL jago lampu merah:mrgreen: , kan biasanya pakai mtr2 Honda semua).

beginilah kira-kira keadaan si Seventy saat belum mati suri
Enjin

Berikutnya adalah Seventy milik ayah saya. Sebelumnya, ayah saya dan kembarannya diberi sebuah Honda CB125. Namun, karena tabrakan frontal dengan motor lain, yang berakibat cukup parah bagi si CB125, akhirnya dijuallah si CB setelah diperbaiki, dan gantinya ayah saya dengan paman saya diberi C70. Ini C70 keluaran tahun 1978. Lebih tua setahun dari Seventy milik ibu saya. Saya tak punya banyak kisah dengan sang Seventy yang satu ini. Justru saudara sepupu saya (yang mana adalah anak dari kembaran ayah saya) yang pergi ke sekolah diantar Seventy yang satu ini waktu dulu, kan ayah udah pake yg punya ibu saya (namanya kembaran pikirannya sama, nganter anak pake Seventy  biar hemat😆 ). Sampai paman saya berhenti mengantar sepupu saya dengan sang seventy dan beralih sepenuhnya ke mobil. Akhirnya Seventy ngejogrog di rumah nenek saya bertahun-tahun. Nah, rencana sebelumnya adalah, paman saya ingin memberi Seventy ini pada anaknya (minta dibliin CBR sih anaknya:mrgreen: tapi paman masih takut karena spupu saya ini doyan ngebut). Tapi malah akhirnya ayah saya yang menghidupkan kembali Seventy tersebut. Berikut gambar si Seventy ’78, lebih mulus sedikit dari milik ibu saya:mrgreen: Dan kelengkapannya juga masih lengkap (saringan udara, saluran karbu (yg bentuknya seperti kantong karet di mulut karbu), sementara milik ibu saya udah gak ada semua, tapi memang 2 bekjul ini kehilangan 1 item yang sama, shroud aka sayap:mrgreen:

C70 1978 saat masih mati suri di rumah nenek aye
Enjin si Seventy '78

apdet terakhir, si Seventy 1978 yang sudah hidup lagi kembali ke alam mati suri setelah masalah koil:mrgreen: Jadi sekarang senasiblah dia dengan Seventy 1979. Besok mau dibengkelkan lagi oleh ayah saya, diangkut pakai Panther:mrgreen: Masalah si 1978 aja gak abis-abis, gimana si 1979 mau dihidupin lagi ?😆

apdet : Si Seventy ’78 udah iduplagi.com…..dan anehnya, lebih mudah pula hidupnya dibanding si FD110, mungkin juga karena koilnya diganti…..

22 pemikiran pada “Honda 70-Pewarna Kehidupan Keluarga Saya

    1. xixixixi, ternyata lama2 baca cuma itu yg dikomen:mrgreen: gak tau tuh knapa bannya, soalnya yg itu ngendonnya bukan di rumah aye, tapi di rumah nenek aye….

      begini2 juga JDM inih motor, malah made in Japan asli😆

      tinggal bujet restorasinya aja minimal keluar 3 juta, wakwkawakk (1 motor, 2-2nya 6 juta, mending beli FDXRM bekas)

    1. mesin seri C terakhir itu punya Supra Fit emg, karena dijualnya bersamaan dengan Revo 100. Nah, Revo 100 ini mesinnya ttep C series, tapi ada sedikit ubahan tertentu, katanya sih lebih performanya (sedikit) lebih dibanding Supra Fit 100. Tp klo boleh lebih detail lagi, mesin2 mreka itu tinggal basisnya aja yang C100, karena nomer seri enjinnya udah pake kepala “NF”. Supra Fit itu make kode NF100. Begitu juga Revo 100.

      Nah, klo Absolute Revo, baru mesinnya beda jauh sama C100, udah gak ngambil basis C100 lagi. Kodenya NF110.

      Cat ulang? boleh sih , tapi proyek FD110 dulu nih harus dikelarin duluan🙂

    1. maunya sih gitu bro🙂

      apa daya keadaan ekonomi yang tidak mengizinkan, jadinya skarang konsen ke Shogun dulu aja deh:mrgreen:

      Lgian yg punya juga bonyok ane, jd bukan sepenuhnya tanggung jawab ane, tanggung jawab ane yg paling utama itu si FD110 Shogun🙂 (Biarpun ane ngmg gt juga ttep aja ada keinginan buat restorasi dua mtr ini😦 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s