Jalur Sepeda

image courtesy of  bandung.detik.com

Mungkin akhir2 ini sedang ramai-ramainya digalakkan jalur sepeda di beberapa kota besar. Saya kebetulan mengetahui ini dari pengamatan sendiri (saya tinggal di kota Bandung) di mana ada beberapa lajur sepeda yang telah dibuat, namun belum dioptimalkan, atau tepatnya belum dipakai secara optimal. Begitu pula jalur sepeda di Jakarta yang katanya dipakai sebagai tempat parkir mobil sampai tempat mangkal becak. Kebetulan, saya menemukan sebuah artikel menarik mengenai sikap sebuah majalah otomotif terkenal terhadap jalur sepeda, artikelnya di sini:

http://motorplus.otomotifnet.com/read/2011/06/03/319947/122/14/Pembukaan-Jalur-Khusus-Sepeda-Biker-Layak-Meminta-Lebih

. Nah, yang menariknya adalah, mereka juga menyatakan bahwa seharusnya pembayar pajak seperti pengendara motor aka motoris, lebih berhak mendapat jalur motor dibanding pemakai sepeda yang tidak membayar pajak. Dari situ mulai timbul pertanyaan dari benak saya, apa perlunya motor diberi jalur khusus? Bukannya motor cukup dengan jalur regular saja. Apa yang ada dibenak saya ini sebetulnya bukannya memojokkan pengendara motor, karena saya sendiri adalah motoris sekaligus pemakai sepeda. Dan lagi, biasanya mayoritas pengendara sepeda pun juga memiliki kendaraan bermotor yang dibayar pajaknya secara teratur (biasanya sih, walau gak semua).

Motor sendiri kan dikenal sebagai kendaraan yang bisa selap-selip, dan tentunya kelebihan ini akan terbatasi seandainya motor dimasukkan dalam satu lajur khusus, yang tentunya akan lebih sempit dari jalur regular. Nah, tentunya kita juga tahu bahwa pengendara motor di Indonesia, taat jalur regular pun terkadang tidak. Seringkali mereka memakai trotoar. Apabila aturan ini diterapkan, tentunya akan mubazir. Karena pasti akan ada pelanggaran. Lagipula rasanya juga pasti seperti terkungkung dalam satu lajur sempit.

Nah, mengenai jalur sepeda, ini sih memiliki fungsi yang jelas, yaitu melindungi pengendara sepeda, sekaligus juga menghindari pengendara bermotor terganggu akan keberadaan sepeda di jalur regular. Kita sendiri juga tahu kan, avs (average speed) sepeda tuh paling kencang juga 17-30 kpj. Kalau di kompetisi baru mendekati 60-90 kpj avsnya. Dengan sendirinya, kendaraan bermotor yang melaju dengan avs kira-kira 30-70 kpj tentu akan terganggu dengan sepeda yang melaju dengan lambat. Ingin nyalip takut tiba-tiba sepeda itu berbelok tanpa memberi tanda, ingin menunggu, tentunya tidak enak menjalankan kendaraan bermotor pada kecepatan selambat itu. Jadi, keuntungan jalur sepeda itu ya bagi kedua belah pihak.

Saya juga kebetulan memposting artikel ini di sini:

http://sepedaku.com/forum/showthread.php?56799-Opini-sebuah-majalah-otomotif-mengenai-jalur-speda

dan tanggapan para forumer sepeda tentunya cukup keras, sampai menyuruh menulis surat pembaca untuk protes terhadap artikel ini. Yang ingin saya ketahui sebetulnya sih opini para pengendara sepeda mengenai artikel ini, tapi yang pasti, saya termasuk yang kurang setuju akan adanya jalur motor, sebab bisa dibilang kurang berguna, baik bagi pengendara lain maupun bagi pengendara motor itu sendiri. So, check me if i wrong. Saya pikir juga pemikiran saya ini harus dikoreksi dan dilengkapi, mungkin ada yang mau memberi masukan?

Salam

12 pemikiran pada “Jalur Sepeda

  1. Mestinya toleransi para pengguna kendaraan bermotor lebih ditingkatkan untuk pengguna sepeda

    Mending kebanyakan sepeda dibanding mobil – motor….minim polusi, tabrakan & bikin sehat bangsa (kecuali negara karena pajak jadi turun :p )

    1. nah ini baru bener🙂

      toleransi sesama pengguna jalan itu mutlak perlu

      Toh klo ada jalur speda itu ada keuntungan 2 pihak kan. Speda ga takut diterjang motor, motor jg ga kagok ngurangin kecepatan demi speda.

      Karena saya ngalami jadi 2-2nya, jadi pengendara motor klo ada speda itu gak enak. Jd pengendara speda itu klo di jalur regular pun gak enak, karena AVSnya lambat dan diklakson mulu sama pengendara bermotor yg maunya cepet2

      di opini saya dalam tulisan ini sih, ga mihak siapa2, wong saya jadi dua2nya kok, pengendara speda iya, pengendara motor iya:mrgreen:

  2. Kalo jalur khusus motor saya setuju,tetapi pake ruas jalan tol.yah mirip2 di jepang gitu deh.cocok buat daerah bekasi yg rata2 ke pt naik motor..misalnya saja cukup ruas tol dari bekasi barat sampai karawang yang langsung akses ke kawasan2 industri.yakin deh,dg karcis tol cuma seribu perak/masuk kepadetan di jalan2 sekitar bekasi pasti berkurang-kecuali kalo malah mobilnya yg tambah banyak..

  3. Setuju jalur sepeda.
    Ane adalah pemakai sepeda aktif.
    Jakarta-depok 40km tiap hari.
    Motor cuma buat pulang k bandung, tiap 2minggu sekali…
    Bisa dipanggil oom nih…
    Khas panggilan b2w.

    Juga setuju jalur khusus motor d jalan tol.
    Kalo ada mantab tuh.
    Jakarta bandung bisa 2jam aja..
    Normalnya 4-6jam.

    Jalur khusus motor d dalam kota ga penting,…

    1. Yup, jalur speda memang dibutuhkan, apalagi di dalam kota….

      Jalur motor di jalan tol? ide yg bagus juga, tapi sebaiknya jalurnya terpisah sama sekali, bukan di jalur utama, mungkin bisa bangun jalan baru, tapi sejajar dengan jalur tol mobil, yah tol motor gitu om

      Setujuu, tidak dibutuhkan tuh, motor masih bisa pake jalur regular….klo dalam kota tapinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s